h1

Majalah CHIC Indonesia Edisi Juni 2011

April 25, 2013

Majalah CHIC Indonesia Edisi Juni 2011

Alhamdulillah, ngga nyangka …

h1

review-blog-di-chic.jpg

April 25, 2013

Alhamdulillah blog ini telah direview oleh Majalah CHIC Indonesia.
Didedikasikan untuk Eyang Kakung Soendoro Tirtosiwojo (alm).

h1

HOPELESS-JOBLESS IS A BIG NO-NO

May 6, 2011

Setelah 10 tahun berkarier sebagai sekretaris, kuputuskan untuk berhenti bekerja. Alasan klise, ingin mencurahkan seluruh waktu dan kemampuan untuk mengurus anak dan rumah tangga. Aku telah berumah tangga selama tiga tahun dan dikaruniai seorang anak perempuan balita berusia 2 tahun. Aku dibantu oleh seorang baby sitter untuk mengurus segala kerepotan seorang ibu yang bekerja. Namun pada kenyataannya, kehadiran seorang ibu bagi anaknya sangatlah penting, apalagi disaat anak sedang sakit.

Ketika kesibukan di kantor memuncak dan membutuhkan konsentrasi tinggi, di rumah telah terbaring anak yang sedang demam dan rewel. Hal itu tentu sangat mengganggu konsentrasiku bekerja. Otomatis kinerjaku menurun dan teguran dari atasanku pun kuterima dengan sabar. Segala ijin dan permakluman yang kudapat dari kantorpun lama kelamaan membuatku sungkan. Aku yang dulunya bisa menangani beberapa proyek sekaligus, sekarang manalah mungkin. Menangani hal rutin saja banyak koreksi. Aku tidak betah dalam situasi yang serba nanggung begini.

Beberapa saat aku sempat bimbang. Karier dan posisiku sangat menyenangkan. Relasiku juga banyak. Ibaratnya aku sedang di puncak karier dan  juga belum merasakan tanda-tanda kejenuhan bekerja. Aku mulai menghitung untung dan rugi, terutama yang menyangkut pendapatan keluarga. Juga membuat prakiraan usaha yang dapat aku jalankan di rumah, selain usaha kos-kosan yang sudah berjalan semenjak kami menikah. Aku berdiskusi dengan suamiku. Ia mendukungku demi anak. Aku juga mendapat dukungan dari ibu. Menjadi ibu rumah tangga tidak kalah mulia dengan menjadi wanita karier. Wanita dengan karier yang cemerlang tidak akan berarti apa-apa jika anak menjadi terlantar. Begitu ucapan ibu yang kudengar.

Akhirnya waktupun tiba. Kusampaikan keinginanku untuk berhenti bekerja kepada pimpinan dan rekan sejawat. Banyak dari mereka yang menyayangkan keputusanku. Tapi apa boleh buat, aku harus memilih dan berharap semoga pilihanku tepat dan juga bermanfaat bagi keluargaku.

Satu bulan berjalan setelah resign-ku, aku belum merasa bosan. Rasanya seperti mengambil cuti panjang. Hari-hariku disibukkan dengan mengurus si kecil dan tetek bengek urusan rumah tangga. Ternyata asyik juga. Menginjak bulan ke-2 dan ke-3, aku mulai merasa bingung dan kelelahan. Aku yang terbiasa bekerja 8-4, sekarang harus 24 jam nonstop, karena aktivitasku berhenti ketika waktu tidur datang. Aku mulai uring-uringan, terlebih si kecil menjadi lebih manja dari biasanya.

Dengan kesadaran penuh aku mulai belajar menyesuaikan diri dengan ritme yang baru. Suamiku pun mulai menawarkan kemungkinan aktivitas-aktivitas baru yang bisa aku kerjakan selain mengurus anak dan rumah tangga. Rencana mulai kususun. Aku menjadi tenaga marketing untuk diriku sendiri dengan menawarkan jasa desain grafis. Kebetulan aku juga mempunyai ilmu desain grafis. Kutawarkan jasaku pada beberapa relasiku. Dengan sedikit perjuangan dan kesabaran akhirnya aku mulai mendapatkan order. Membuat brosur, leaflet, dan booklet. Seiring waktu berjalan, aku mulai mengalami pasang surut berbisnis. Ketika order mulai sepi, aku tidak betah.

Aku mulai cari peluang baru. Aku mendapat inspirasi dari asesoris koleksiku. Iseng-iseng aku bongkar salah satu kalung yang aku punya. Aku pelajari dan coba merangkainya kembali dengan bentuk yang baru. Aku merasa puas dan tertantang. Esoknya aku mencari bahan-bahan pembuat asesoris. Aku mulai berkreasi. Ku beranikan diri menjual hasil karyaku berupa anting, kalung dan gelang di setiap kesempatan, arisan maupun pertemuan-pertemuan rutin. Aku juga mengikuti bazar atau pameran skala kecil. Alhamdullilah, usaha ini mulai memperlihatkan jalannya.Adabutik di luar daerah yang secara rutin meminta stok persedian barang produksiku. Aku mulai mencetak kartu nama baru dengan bidang usaha yang baru. Usaha ini benar-benar fleksibel. Setelah sibuk selama 7-10 hari membuat stok barang, aku bisa libur untuk beristirahat dan sekedar mencari ide rancangan baru.

Rupanya aku ditakdirkan untuk selalu ingin mencoba hal baru. Ketika aku sedang menikmati masa liburku, aku seharian memanjakan diri di salon untuk sekedar creambath, facial dan luluran. Sambil menikmati semua treatment di atas, otak bisnisku mulai jalan. Ah, kalau aku mau, aku juga bisa mencoba bisnis seperti ini, walaupun dengan skala kecil dan sederhana. Aku berprinsip coba dulu, urusan lain belakangan. Aku juga tidak mau mengeluarkan modal besar dengan hasil nol. Karena sekarang era SMS, akupun mulai mengirimkan SMS penawaran bodyscrub, facemask dan  footcare secara panggilan ke beberapa teman dekatku. Responpun berdatangan dan mereka tidak menyangka bahwa itu semua aku yang melakukan. Toh aku sering melalukan treatment seperti itu, ditambah beberapa informasi dari internet dan sedikit nekad, jadilah. SMS panggilan mulai berdatangan. Semuanya aku syukuri sebagai karunia dan nikmat Allah SWT yang tiada habisnya dilimpahkan kepadaku. Setiap kali aku bepergian, 3 buah kartu nama selalu ku bawa dan siap beredar sesuai dengan kebutuhan. Aku merasa sibuk setiap harinya walau tanpa mengabaikan niatan semula, mengurus anak dan rumah tangga. Akulah si pengacara, pengangguran banyak acara.

Aku bersyukur kepada Allah SWT, yang telah menganugerahiku bermacam talenta dan semangat serta tekad yang tidak kunjung padam dalam diriku. Karena aku yakin, hidup sudah ada yang mengatur, jadi kita tinggal berusaha dan berdoa agar hidup kita senantiasa terarah, penuh semangat dan memberi manfaat bagi diri sendiri dan orang banyak. Ketika aku menuturkan ini semua pun, sudah terlintas dibenakku, mengapa aku tidak mulai mencoba untuk menjadi penulis???

h1

UPGRADING YOURSELF

May 6, 2011

Pada tahun 1995, aku adalah fresh graduate dari akademi sekretaris, yang diterima bekerja sebagai seorang secretary to the managing director, di sebuah biro perjalanan wisata. Pimpinannya adalah orang yang tegas, disiplin, sedikit temperamental dan perfeksionis. Apalagi ditambah jabatan beliau di beberapa asosiasi bisnis maupun pariwisata, mengharuskan aku menjadi sekretaris yang cekatan dan selalu tanggap.

Tugas pertamanya saat itu langsung meng-handle acara International Kite Festival. Ternyata pelaksanaan ini adalah yang kedua kalinya. Sekretaris yang terdahulu rupanya tidak meninggalkan arsip-arsip yang memadai berkenaan dengan hal-hal tersebut. Selama satu bulan penuh, aku berjibaku dengan persiapannya. Benar-benar diluar dugaan, karena belum tahu seluk beluk menangani sebuah event bertaraf internasional. Aku berusaha belajar cepat agar tidak mengecewakan pimpinan, sekaligus ingin memberikan kesan pertama yang baik atas kemampuan sebagai sekretaris. Benar-benar all in. Singkat kata, syukurlah semua berjalan sukses dan pimpinan merasa puas.

Selang beberapa bulan, aku mulai bisa memahami ritme kerjanya. Semakin cepat ia menyelesaikan suatu perkerjaan, maka akan segera disusul dengan program kerja atau proyek baru. Salah satunya adalah program pelatihan pemasaran pariwisata bagi manajer yang diselenggarakan oleh dirjen pariwisata. Tanpa ku duga, pimpinan mengutusnya untuk mengikuti pelatihan tersebut. Aku heran, padahal pelatihan itu khusus diikuti oleh marketing manager. Tanpa bisa protes, aku tetap berangkat, walau dengan segudang keraguan.

Dugaanku tepat. Materi yang diberikan benar-benar hal baru bagiku. Beberapa peserta juga tidak mengira, aku seorang sekretaris. Lama kelamaan aku tertantang. Perusahaan sudah membiayaiku ikut pelatihan ini dengan biaya yang tidak murah, karena nantinya aku akan mendapatkan sertifikat nasional dengan kemampuan tersebut. Paling tidak, nilainya tidak memalukan, ketika akhirnya sertifikat itu bisa kubawa pulang.

Semakin lama, aku menerima tugas-tugas diluar kewenangan seorang sekretaris. Sebenarnya aku ingin sekali protes, tapi entah mengapa, tak sanggup. Aku hanya merasa, pimpinan benar-benar ingin memberdayakan kemampuanku, diluar lingkup dunia kesekretariatan. Ketika hal ini didiskusikan dengan orang tuaku, mereka mendukung dan berharap aku mendapatkan banyak pengalaman yang berharga. Benar juga.

Aku terus belajar meningkatkan kemampuan diri. Kalau bidang administrasi dan kesekretariatan, pastinya sudah mahir, apalagi didukung oleh ijazah resmi dari akademi. Saatnya aku mulai membuka wawasan tentang kepariwisataan, lengkap dengan semua hal-hal yang mendukungnya. Tak kurang dari 3 tahun, sertifikat ticketing internasional dan domestik sudah dikantongi. Ijazah kemampuan berbahasa Italia dan Jerman pun sudah ditangan.

Akhirnya timbul tekad dalam diriku untuk tidak akan mengecewakan perusahaan, terutama pimpinan yang sudah berbaik hati selalu memberikan kesempatan-kesempatan berharga, yang mungkin nantinya akan berguna bagi tugas-tugas selanjutnya. Terakhir, aku mengambil kuliah jurusan desain  grafis selama 1 tahun. Selain karena aku mempunyai minat terhadap rancang grafis, juga untuk mengakomodasi kebutuhan akan pembuatan materi-materi promosi pariwisata, yang sering ku buat.

Sepatutnya aku bersyukur, memiliki lingkungan kantor yang sangat kondusif dan saling mendukung bisa mengembangkan diri tanpa mengabaikan tugas-tugas di kantor. Aku terbentuk menjadi orang yang selalu haus akan ilmu. Dan ternyata setelah bekerja selama 10 tahun di biro perjalanan wisata itu, aku telah menjadi seorang sekretaris plus-plus. Hee … plus ilmunya, plus pengalamannya.

Hmm … sungguh menyenangkan bisa berkesempatan untuk selalu mengembangkan diri. Apapun itu. Asal jangan malas… Hmm … kursus jahit yuuk …

h1

SIMPLY SMILE

May 6, 2011

Senyum itu ibadah. Seringkali kudengar ungkapan itu. Tapi di dunia kerja temanku, Santi, biro perjalanan wisata penyedia jasa tiket penerbangan, senyum adalah uang. Ya, bagi petugas lini depan bagian penjualan tiket penerbangan, senyum sangatlah penting. Tidak peduli kursi dengan harga promo sold out, bookingan yang masih waiting list maupun calon penumpang yang merubah rute perjalanan tanpa memperhatikan kondisi tiket.

Di divisi ticketing kantor tempatnya bekerja, ada seseorang yang jarang sekali tersenyum. Wajahnya datar dan cenderung dingin. Santi tidak pernah tahu bagaimana gejolak emosinya, apakah sedang marah, senang atau sakit perut sekalipun. Semuanya direspon sama, datar tanpa ekspresi. Setiap Santi berbicara dengannya, bagaikan berbicara dengan robot. Dia bekerja sebagai accounting. Memang, dia tidak berhadapan langsung dengan customer. Tapi jika semua staf sibuk dalam proses booking online dengan gagang telepon terjepit di antara dagu dan bahu, maka, dialah satu-satunya orang yang akan menjawab telepon yang masuk.

Bisa diduga, banyak keluhan yang masuk, seputar rekan tersebut. Macam-macam keluhannya, ada yang bilang judes, ketus dan sebagainya. Keluhan itu ditampung dan pada saat rapat evaluasi bulanan, hal itu disampaikan oleh ticketing manager secara terbuka di forum. Para staf  khawatir rekan itu akan marah. Tapi sekali lagi, dugaan itu salah. Dia diam, datar, tanpa ekspresi apapun. Tidak heran, banyak rekan se-divisi yang lebih senang menjauh darinya. Tapi Sinta setengah mati penasaran.

Santi berniat akan terus mendekatinya. Penasaran ingin tahu, karena ia yakin, pasti ada sesuatu yang menyebabkan dia seperti itu, apalagi dengan konsekuensi dijauhi teman se-divisi dan ditakuti para customer.

Benar saja, Santi menerima sikap-sikapnya yang cenderung acuh, apatis dan ketus. Kata-kata pedasnya diusahakan tidak sampai mampir ke hatinya. Padahal pendekatannya sangat sederhana. Mengajaknya makan siang bersama, menemaninya membuat laporan keuangan, atau sesekali menanyakan kabar anaknya yang baru saja masuk SD. Rekan sekantornya mencibir, karena mengganggap usaha Santi sia-sia. Tapi Santi yakin, tak ada yang sia-sia di dunia ini.

Bagaikan ahli psikologi, Santi mencatat setiap perkembangannya. Dia sudah mulai bisa menyapanya selamat pagi dengan suara yang lebih bersahabat. Dia juga curhat tentang kerepotannya mengurus si kecil, tentu dengan ekspresi jengkelnya. Dan yang membuat Santi bahagia adalah, ketika dia tertawa lepas saat menyadari ruitsleting roknya masih terbuka. Hmm, semuanya hal sederhana. Tapi bagi Santi sungguh luar biasa.

Teman-teman Santi heran dan menanyakan jangan-jangan dia memakai jampi-jampi pemikat. Dia katakan, semua murni karena kasih sayang dan perhatian. Dia hanya merasa sayang, masak beribadah dengan senyum saja tidak bisa? Ya, senyum adalah ibadah, dengan senyum kita   mendapatkan segalanya, termasuk uang. Dan yang pasti kita akan merasa lebih sehat dan bahagia. Pantas saja, Santi datang dengan wajah ceria, ketika menceritakan ini semua kepadaku. So simple. Senyum aah ….


h1

DEAREST IBU

May 6, 2011

A postponed posting ….

Tidak terasa bulan Desember kembali tiba. Di bulan ke-12 ini rasanya banyak momen yang akan kita lalui. Akhir tahun selalu identik dengan saat-saat introspeksi, koreksi dan rencana-rencana atau resolusi yang siap untuk dijalankan di tahun depan. Tapi bagi saya, tanggal 22 Desember, Hari Ibu, adalah momen paling spesial.

Ibu, adalah sebuah sebutan untuk seorang wanita yang telah melahirkan dan membesarkan kita. Tak peduli bagaimana cara beliau merawat kita, yang pasti di setiap helaan nafasnya adalah doa dan kasih sayangnya yang tulus kepada anaknya. Pun bila anaknya bandel, bahkan durhaka sekalipun.

Menengok kembali peran, tugas dan jasa seorang ibu, adalah perlu sebagai cermin agar kita dapat semakin menaruh hormat dan memberikan kasih sayang kepadanya. Di jaman yang serba modern dalam segala segi kehidupan dewasa ini, sungguh, nasihat, petuah dan pesan-pesan seorang ibu hendaknya patut kita jadikan pedoman dalam melangkah. Saya selalu terharu bila ingat lagu yang diajarkan pada waktu TK, … nasihat ibu, pesan ibu, akan kuingat selama hayat, dan di manapun aku berada, nasihat ibu, pedomanku …

Aku bukanlah seorang anak yang manis untuk ukuran ibuku. Aku selalu straight to the point padanya. Sering aku membantah ataupun mendebat perkataannya apabila menurut pikiran dan nalarku tidak masuk akal. aku selalu merasa yakin akan keputusan yang ku ambil tanpa minta pendapat orangtua, khususnya ibu. Untungnya, selama ini keyakinanku masih bisa dipertanggungjawabkan. Sampai akhirnya, suatu saat untuk sesuatu hal, kami berdebat hebat. Terakhir ibu hanya mengucapkan : “ Yah, terserah kamu. Ibu hanya ingin melihat, bagaimana kamu nanti kalau sudah jadi ibu, jadi orang tua. “

Plas! Aku tertegun dan kaget. Setengah mati! Aku langsung merasa takut entah kenapa. Aku hanya merasa, sepertinya ibu sedang menyumpahiku. Tanpa menunggu lagi, aku langsung menyusul ibu dan meminta maaf. Kami bertangisan seru kala itu. Pada saat itulah, kami seperti baru memahami perasaan dan keinginan masing-masing.

Ibu menyadari, bahwa sebagai anak yang pengalamannya terbatas, wajarlah bila aku selalu sok tahu dan merasa benar dalam segala hal. Begitupun bagi aku. Beliau yang sudah banyak makan asam garam dan manis pahit kehidupan, tentunya ingin agar kita selalu selamat dan hidup lebih baik lagi darinya.

Delapan tahun setelah peristiwa itu berlalu, aku kemudian menjadi seorang ibu dari seorang bayi perempuan mungil. Ucapan selamat dari ibu sangat sederhana tetapi sanggup membuat aku terharu sekaligus takut! “Selamat, engkau kini telah menjadi seorang ibu.” Sempat terlintas dipikiranku, akankah anakku nanti berkelaluan seperti aku dulu? … (que sera, sera). Selamat Hari Ibu ! Untuk semua Ibu hebat di Indonesia.

h1

WHAT A LIFE

February 9, 2010

Selasa, 9 Februari 2010

Setelah non aktif di situs jejaring sosial, kok hidup agak lumayan enak ya.
Lebih santai, ngga kemrungsung mikirin update status, mikirin komen2 yang masuk.
Mikirin sms atau telpon yang masuk cuma gara2 ga suka komen beberapa temen2ku.
Haha. Lucu juga. Perhatian emang bisa dalam bentuk apa aja.
Dan yg lebih enak lagi, emailku ngga banyak karena masuk notifikasi2 dari situs itu. Capek juga tiap hari harus menghapus kira2 200-300 email. Pernah seminggu ga buka email, sekalinya buka ada 5667 email. Isinya notifikasi semua. Padahal dulu udah pernah ngeset, supaya email notifikasi gak usah masuk ke inbox.

Yang paling parah, ada temen yang sayang dan perhatian banget, sampe2 pas kasih status tentang lagu, ditanyain, kenapa, buat siapa … Woo’ … oo. Ini tendensinya kemana nih? Cemburu, ingin tau, perhatian, apa intimidasi berkedok sayang ? Haha. Mungkin temenku ini belum terlalu kenal aku. Tapi IT’S OKAY. It’s a kind of attention and compliment. I need to appreaciate.

Anyway, I’m happy to be here.
I like DAILYMOOD welcome me in everything I am.
Never give a comment even a complaint.
And finally, I have no rubbish in my inbox both mobile phone and social site and didn’t waste my time to throw it away to my trashbin.

Thanks God … What a life ! I love YOU and I love the life You give to me.
So complete … but don’t make it into complicated …

h1

I’M HERE

February 6, 2010

Sabtu, 6 Februari 2010

Hari ini aku menonaktifkan sementara akun di salah satu  situs jejaring sosial.
Lagi jenuh. Bosen.
Mending aku tulis di sini aja, cerita sehari2.
Lengkap dengan segala perasaan yang ada.
Karena aku tetap butuh tempat untuk bercerita.
Disini lebih bebas. Lebih luas.
Karena milikku sendiri.

DAILY MOOD,
I’m now gonna be part of your day of your life … from now on …

Design a site like this with WordPress.com
Get started