
SIMPLY SMILE
May 6, 2011Senyum itu ibadah. Seringkali kudengar ungkapan itu. Tapi di dunia kerja temanku, Santi, biro perjalanan wisata penyedia jasa tiket penerbangan, senyum adalah uang. Ya, bagi petugas lini depan bagian penjualan tiket penerbangan, senyum sangatlah penting. Tidak peduli kursi dengan harga promo sold out, bookingan yang masih waiting list maupun calon penumpang yang merubah rute perjalanan tanpa memperhatikan kondisi tiket.
Di divisi ticketing kantor tempatnya bekerja, ada seseorang yang jarang sekali tersenyum. Wajahnya datar dan cenderung dingin. Santi tidak pernah tahu bagaimana gejolak emosinya, apakah sedang marah, senang atau sakit perut sekalipun. Semuanya direspon sama, datar tanpa ekspresi. Setiap Santi berbicara dengannya, bagaikan berbicara dengan robot. Dia bekerja sebagai accounting. Memang, dia tidak berhadapan langsung dengan customer. Tapi jika semua staf sibuk dalam proses booking online dengan gagang telepon terjepit di antara dagu dan bahu, maka, dialah satu-satunya orang yang akan menjawab telepon yang masuk.
Bisa diduga, banyak keluhan yang masuk, seputar rekan tersebut. Macam-macam keluhannya, ada yang bilang judes, ketus dan sebagainya. Keluhan itu ditampung dan pada saat rapat evaluasi bulanan, hal itu disampaikan oleh ticketing manager secara terbuka di forum. Para staf khawatir rekan itu akan marah. Tapi sekali lagi, dugaan itu salah. Dia diam, datar, tanpa ekspresi apapun. Tidak heran, banyak rekan se-divisi yang lebih senang menjauh darinya. Tapi Sinta setengah mati penasaran.
Santi berniat akan terus mendekatinya. Penasaran ingin tahu, karena ia yakin, pasti ada sesuatu yang menyebabkan dia seperti itu, apalagi dengan konsekuensi dijauhi teman se-divisi dan ditakuti para customer.
Benar saja, Santi menerima sikap-sikapnya yang cenderung acuh, apatis dan ketus. Kata-kata pedasnya diusahakan tidak sampai mampir ke hatinya. Padahal pendekatannya sangat sederhana. Mengajaknya makan siang bersama, menemaninya membuat laporan keuangan, atau sesekali menanyakan kabar anaknya yang baru saja masuk SD. Rekan sekantornya mencibir, karena mengganggap usaha Santi sia-sia. Tapi Santi yakin, tak ada yang sia-sia di dunia ini.
Bagaikan ahli psikologi, Santi mencatat setiap perkembangannya. Dia sudah mulai bisa menyapanya selamat pagi dengan suara yang lebih bersahabat. Dia juga curhat tentang kerepotannya mengurus si kecil, tentu dengan ekspresi jengkelnya. Dan yang membuat Santi bahagia adalah, ketika dia tertawa lepas saat menyadari ruitsleting roknya masih terbuka. Hmm, semuanya hal sederhana. Tapi bagi Santi sungguh luar biasa.
Teman-teman Santi heran dan menanyakan jangan-jangan dia memakai jampi-jampi pemikat. Dia katakan, semua murni karena kasih sayang dan perhatian. Dia hanya merasa sayang, masak beribadah dengan senyum saja tidak bisa? Ya, senyum adalah ibadah, dengan senyum kita mendapatkan segalanya, termasuk uang. Dan yang pasti kita akan merasa lebih sehat dan bahagia. Pantas saja, Santi datang dengan wajah ceria, ketika menceritakan ini semua kepadaku. So simple. Senyum aah ….


Leave a comment