h1

DEAREST IBU

May 6, 2011

A postponed posting ….

Tidak terasa bulan Desember kembali tiba. Di bulan ke-12 ini rasanya banyak momen yang akan kita lalui. Akhir tahun selalu identik dengan saat-saat introspeksi, koreksi dan rencana-rencana atau resolusi yang siap untuk dijalankan di tahun depan. Tapi bagi saya, tanggal 22 Desember, Hari Ibu, adalah momen paling spesial.

Ibu, adalah sebuah sebutan untuk seorang wanita yang telah melahirkan dan membesarkan kita. Tak peduli bagaimana cara beliau merawat kita, yang pasti di setiap helaan nafasnya adalah doa dan kasih sayangnya yang tulus kepada anaknya. Pun bila anaknya bandel, bahkan durhaka sekalipun.

Menengok kembali peran, tugas dan jasa seorang ibu, adalah perlu sebagai cermin agar kita dapat semakin menaruh hormat dan memberikan kasih sayang kepadanya. Di jaman yang serba modern dalam segala segi kehidupan dewasa ini, sungguh, nasihat, petuah dan pesan-pesan seorang ibu hendaknya patut kita jadikan pedoman dalam melangkah. Saya selalu terharu bila ingat lagu yang diajarkan pada waktu TK, … nasihat ibu, pesan ibu, akan kuingat selama hayat, dan di manapun aku berada, nasihat ibu, pedomanku …

Aku bukanlah seorang anak yang manis untuk ukuran ibuku. Aku selalu straight to the point padanya. Sering aku membantah ataupun mendebat perkataannya apabila menurut pikiran dan nalarku tidak masuk akal. aku selalu merasa yakin akan keputusan yang ku ambil tanpa minta pendapat orangtua, khususnya ibu. Untungnya, selama ini keyakinanku masih bisa dipertanggungjawabkan. Sampai akhirnya, suatu saat untuk sesuatu hal, kami berdebat hebat. Terakhir ibu hanya mengucapkan : “ Yah, terserah kamu. Ibu hanya ingin melihat, bagaimana kamu nanti kalau sudah jadi ibu, jadi orang tua. “

Plas! Aku tertegun dan kaget. Setengah mati! Aku langsung merasa takut entah kenapa. Aku hanya merasa, sepertinya ibu sedang menyumpahiku. Tanpa menunggu lagi, aku langsung menyusul ibu dan meminta maaf. Kami bertangisan seru kala itu. Pada saat itulah, kami seperti baru memahami perasaan dan keinginan masing-masing.

Ibu menyadari, bahwa sebagai anak yang pengalamannya terbatas, wajarlah bila aku selalu sok tahu dan merasa benar dalam segala hal. Begitupun bagi aku. Beliau yang sudah banyak makan asam garam dan manis pahit kehidupan, tentunya ingin agar kita selalu selamat dan hidup lebih baik lagi darinya.

Delapan tahun setelah peristiwa itu berlalu, aku kemudian menjadi seorang ibu dari seorang bayi perempuan mungil. Ucapan selamat dari ibu sangat sederhana tetapi sanggup membuat aku terharu sekaligus takut! “Selamat, engkau kini telah menjadi seorang ibu.” Sempat terlintas dipikiranku, akankah anakku nanti berkelaluan seperti aku dulu? … (que sera, sera). Selamat Hari Ibu ! Untuk semua Ibu hebat di Indonesia.

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started